Lele, Pindang dan Kucing Pengembara

04.00

Hehehe.... dari dulu aku pingin banget punya kucing. Sayangnya papa sebaliknya, kalau lihat kucing pasti darah tingginya kumat. Pasti sensi deh bawaannya sama tuh kucing. Pernah ada kucing lewat depan rumah dilempar sama sandal jepit. Kaget kan kucingnya lari sambil memendam rasa... rasa kecewa *halah.

Usut punya usut, papa tuh suka makan ikan pindang. Mungkin namanya instinc bertahan hidup, ya pasti mamalia mempertahankan daerah kekuasaannya dan makanannya. Jadi papaku mempertahankan daerah kekuasaannya karena takut ikan pindangnya dikudeta sama kucing.

Mamaku beda.. Seneng banget sama kucing. Kucing belekan aja masih ngebet pingin dibawa pulang. "Kasian kucingnya minus, mau mama beliin kacamata," begitu katanya. Sekalian beli kontak lens juga gak apa-apa biar kekinian. Hmmmm.....

Tapi emang sih, kucing kan lucu banget. Udah lucu, ada kumisnya, ada ekornya. (yaaa kuda dan jerapah juga berekor tapi ga berkumis, jadi ga lucu).

Kalau adekku, hmmm dia mah golput. Kalau ada kucing silahkan, kalau ga ada kucing ya silahkan.... Begitulah... Yang penting dia pulsa paket data internet buat main game online ga habis dia mah santaaai.

Tapi ya gitu, lagi-lagi papa yang sewot kalau denger mama dan aku lagi bahas kucing.

"Wes! Gak usah kucing-kucingan!," kata papa sewot. (hmm kucing-kucingan... petak umpet kali yak)

Ya begitulah perseteruan memelihara kucing masih terjadi sampai sekarang. Alasannya, selain kucing itu suka nyuri ikan pindang, papa ga suka soalnya kucing kotor.

"Ya kan ini kalau kucing persia beda pa.... Bersih lucu dan elegan. Mandinya pake shower," kataku memelas.

"Gak usah kucing-kucingan!" begitulah argumen andalan papa sih.

Kadang argumennya beda, "Gak usah kucing-kucingan. Paling awalnya doank kamu rawat, habis itu papa lagi! papa lagi! Capek!" begitu argumennya kalau pas agak kreatif dikit.

Sampai pada akhirnya, September 2016 ini, ada segerombolan kucing berteduh ke rumah. Satu induk warna item, dan 3 ekor anak kucing sebut saja Abu, Blacki, sama Loreng. Nama aku sesuaikan warnanya. Kalau induknya aku gatau namanya, soalnya dia gak nunjukin KTP. Yaudah, sebut saja Mawar.






Berhubung aku dan mama memang menantikan kehadiran kucing di rumah, otomatis aku eforia dong. Yaay! akhirnya ada kucing lucu-lucu ke rumah. Aku tanya ke mama, kata mama, papa ga seberapa mempermasalahkan. Mungkin luluh sama kelucuan si kucing-kucing berkumis itu. Yes!

Ya sayangnya the Cat Family ini tergolong kucing liar ya, cuma numpang berteduh doank. Ya gitu, kalau dideketin mesti lari. (Kampret kucing PHP!). Terus si Mawar juga galak, dan sepertinya ketiga anaknya juga takut banget kalo dideketin selalu kabur. Aku salah apa... *halah

"Eh Kepet! Udah item galak lagi," gitu kalo aku marah ke Mawar. Habisnya sebel aku kan pingin pegang anak-anaknya masak di pelototin gitu.

Yaudah, aku cuma bisa lihat dari kejauhan ya. Ternyata kucing ini bertahan beberapa hari di rumah. Kapan hari kucingnya mau mendekat. Itupun karena ada maunya.... yaelaaah. Itu karena aku bawa ikan lele goreng sama susu. Aku kasih makan tuh kucing. Awalnya sih si kucing malu-malu, tapi sekarang komunikasi aku dan si kucing semakin terjalin karena lele itu.  Makasih ya lele.

Ya gak masalah kalaupun aku belum bisa pelihara kucing. Ini kan menyantuni kucing pengembara juga dapat pahala tersendiri. Semoga suatu saat dapat restu dan ridho Allah bisa beli kucing. Dibanyakin rejeki juga biar bisa beli lele banyak.

-end-










You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images