Sakitnya Tercopas

21.21

Jadi gini aku mau cerita. Heheh... sudah kalian jangan bohong ya, karena bohong itu dosa. Ayo, sekarang siapa yang pernah copas artikel, kalimat atau apapun dari internet buat bahan tugas kuliah atau kerjaan? (Behehhe...... pertanyaan sulit kedua setelah pertanyaan 'kapan nikah?')

Kayaknya ini tipikal mahasiswa banget ya. Tiap dikasih tugas kuliah apalagi yang membuat artikel dan jurnal-jurnal gitu, seenaknya aja kita copas karya or tulisan orang dari internet. Biasanya, di Google, kalian pasti ngetik begini 'The definition of Bla bla bla PDF' pokoknya belakangnya dibumbuhin 'PDF' gitu deh. Hohoho (ketawa Sinterklas).

Apalagi kalau kepepet, beuhuhuhu (ketawa miris), copasnya gak cuma satu paragraf, satu halaman di copas pun terasa halal bagi kalian. Aku bukan menjudge, tapi aku juga kadang melakukan perbuatan nista itu (halah pengakuan dosa).

Begini teman-teman, sebaiknya kalian tidak membiasakan diri dengan suka mengcopas. Karena itu akan mengurangi kemampuan kalian berpikir kritis. Ciee. Serius lho, artikel yang bertebaran di internet itu untuk dibaca dan dijadikan referensi, bukan untuk seenaknya dicomot lalu kita pakai seenaknya dan memberi label itu karya kita. Kita tidak menyadarinya, tapi itu sebenarnya mencuri. Hiks (tak ada bahasa halus untuk mendefinisikannya, karena 'plagiat' udah umum)

Waktu masuk di bangku pascasarjana dan bekerja jadi wartawan, aku benar-benar menyadari betapa penting dan susahnya menulis tanpa mengcopy karya orang lain. Saat kuliah, aku punya dosen yang tertib dan teliti mencheck daftar pustaka. Untuk memastikan saja, bahwa kutipan yang kita tulis di artikel, dicantumkan nama penulisnya di daftar pustaka, tidak mengurangi dan menambahi. Dari situlah, aku belajar, mengkutip karya orang lain juga untuk mensupport ide kita agar tulisan yang kita buat berbobot. (Bobotku 85 Kg, anyway)

Kemudian dalam pekerjaan jurnalistik, sering kali aku menemukan tulisan berita yang aku buat dengan berdarah-darah, berkeringat (sampai BB-ku turun 3 ons) itu mentah-mentah di copy tanpa ijin oleh wartawam dari media lain (yang aku ga bisa sebutin siapa). Parahnya, mereka tidak menyertakan sumber berita dari mana atau embel-embel 'dikutip dari...' mana mencopynya nggak di edit lagi. Minimal dirubah-ubah atau di edit kek. hiks

Ketika tahu karya kita dicopas tanpa menyertakan kredit untuk kita, rasanya sakit ternyata. Lebih tepatnya kesel kecewa gitu kan. Kadang kesel banget, aku mengadu ke teman wartawan yang udah senior gitu, katanya cuma "Selamat datang di dunia wartawan".

Now, you see the problem, right? Seolah praktek copas ini biasa dan dibiarkan. Malah ada yang bilang, "harus bangga karena tulisanmu dianggap bagus sampai-sampai di copas". See? This statement really dont solve the real problems. Alhasil, praktek copas ilegal ini semakin menjamur.
Lalu aku merenung dan ingat, aku juga pernah ngopas karya orang juga. Ternyata dicopas itu nggak enak rasanya. So, dari situlah kita memang harus keep being ourself and trying not copy others' works. Ini bukan soal dendam kesumat 'awas ya elu copas aku, aku balik copas elu', tapi lebih ke soal integritas. Integritasmu sebagai mahasiswa ataupun profesi apapun yang kamu jalanin.

Sekian, maaf kalau dalam tulisan banyak salah-salah. Maafkan aku yang pernah mengkopas or mengutip tanpa ijin waktu dulu-dulu ya. Muach

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images